Kuliah, kenapa harus bermasalah seperti ini?

Saya sangat yakin, banyak di antara kita yang merasa bingung mau kuliah dimana setelah lulus dari SMA. Ya sama seperti saya, sebenarnya bingung bukan karena banyak pilihan, tetapi bingung apakah saya mampu atau tidak. yah, saya merasa sangat kecewa dengan sistem yang ada saat ini. cara untuk bisa masuk ke perguruan tinggi negeri ini terasa memberatkan. pertama mengenai jalur undangan, ya di tahun 2013 ini saya tidak diterima di universitas yang saya idam-idam kan selama ini melalui jalur undanvgan. padahal saya seorang atlet bridge, ya bridge, bukan sembarang olahraga, olahraga otak satu ini saya rasa tidak sembarang orang yang bisa memainkannya. hanya mereka yang memiliki logika yang baik yang bisa. saya sangat sering menjuari kejuaraan bridge di tingkat nasional dan bahkan pernah membawa nama Indonesia, meskipun belum mengharumkannya. saya juga selalu masuk 3 besar di sekolah sejak SD dan bahkan sudah 2 kali mendapatkan NIM tertinggi di sekolah. tetapi kenapa masih belum bisa diterima melalui jalur undangan? kalau ditanya soal piagam, saya punya banyak. saya juga pernah mengikuti OSN kimi sampai tingkat provinsi di tahun 2012. ya, yang salah dari saya adalah terlalu berharap pada jalur undangan tanpa mempersiapkanvyang lain. tapi mau mempersiapkan bagaimana? di usia saya yang ke 17, saya harus pindah ke jakarta dan jauh dari keluarga, harus hidup dan berusaha sendiri. saya harus tetap main bridge dan juga tetap sekolah, itu yang terkadang memberatkan. sehingga setelah selesai ujian saya tidak ikut bimbingan belajar, saya harus main bridge dan mengikuti pertandingan. itu bagian dari pilihan dan resiko. tapi yang saya sesali, mengapa tidak ada jalur ataupun keistimewaan buat mereka yang memiliki segudang prestasi, jadi apa gunanya prestasi yang dikumpulkan mati-matian selama duduk di bangku sekolah ternyata tidak dilirik sedikit pun. saya menulis blog seperti ini hanya ingin berbagi, mungkin teman-teman juga merasakan hal yang sama. tapi saya punya saran, jangan terlalu berharap pada satu hal. harus berusaha sebisa mungkin. tapi ketika kalian memiliki hobi, geluti aja, jangan mikiri yang lain. toh Albert Einstein belum tentu bisa menguasai dan menggeluti semua ilmu, cukup satu, yang penting kita punya kelebihan. buat teman-teman dan saya sendiri tetap semngat buat SBMPTN nya!!

Saya Kembali

Oke, setelah beberapa tahun blog ini off, akhirnya saya berniat untuk menghidupkannya kembali. Melihat postingan saya yang terdahulu yang "kebanayakan" hanya mengcopas dari sumber lain, kali ini saya bertekad untuk membuat yang original. Maaf sebelumnya untuk kealayan saya pada posting sebelumnya :D Dengan sengaja tidak saya perbaiki atau saya hapus hanya untuk mengingat sejarah saya yang dahulu. Salam dari saya ♥

I'm a photoahoLic :)





pLing ga bs kaLo uda ngeLiat kamera..
haha..

rasa'y pengen bergaya gitu..
ga mo kaLah Lah dr yang Laen..
hrs jd yang no 1 kaLo soaL fto"..
:DD
*serakah..
wkwkwk

Imajinasiku

CERPEN-CERPEN
ni cerpen karya aku sendiri loh..
^o^





Akhir dari Penyesalanku

Pagi ini Aldo terbangun begitu cepat, padahal mentari baru saja menghangatkan bumi. Dengan gontai dan mata yang masih terkantuk Aldo turun dari tempat tidur. Setengah sadar Aldo menuju ruang tamu, dan merebahkan tubuhnya di sofa. Tiba-tiba tubuhnya diguncang-guncangkan sampai Aldo terjatuh dari sofa.
“Aldo, cepat bangun! Malah tidur disitu lagi, kamu nggak sekolah?”, Aldo pun terbangun, ternyata tadi mama yang mengguncang-guncangkan tubuhnya.
“Iya ma.. Aldo sekolah, tadi Aldo ketiduran” jawab Aldo, sambil tergesa-gesa Aldo menuju kamar mandi. Tidak berapa lama, Aldo sudah siap dengan segalanya. Aldo sarapan bersama mama, papa, dan Vira, adik perempuan Aldo satu-satunya. Suasana saat itu sangat hening, tidak ada satu orang pun yang mengeluarkan suaranya. Mungkin, itu karena kejadian tadi malam.

***
“Aldo..”
Cowok tinggi dan berseragam putih biru itu menghentikan langkahnya. Ternyata Ferdy dan Jimmy. Aldo menoleh ke belakang, dan menghampiri teman-temannya yang asyik dengan tongkrongannya.
“Ada apa?” Tanya Aldo.
“Pulang sekolah kerumah aku ya, ada game baru nih!” ajak Ferdy.
“Hmm… boleh” jawab Aldo, lalu Ia kembali meneruskan perjalanannya menuju kelasnya, IXb. Jam pertama adalah pelajaran IPS, pelajaran yang paling Aldo sukai. Biasanya kalau sudah pelajaran IPS Aldo sangat semangat, namun kali ini berbeda. Ia tidak menikmati pelajaran itu sama sekali, tidak ada satu katapun dari gurunya yang Aldo terima.
Bel istirahat sudah berbunyi, Tapi Aldo tidak beranjak dari bangkunya. Ia hanya duduk diam dan melamun. Terlintas di pikirannya tentang amarah papa saat malam itu. Memang akhir-akhir ini Aldo sering pulang terlambat dan jarang belajar, padahal Aldo sudah kelas 9, hanya tinggal menunggu beberapa minngu lagi untuk menghadapi ujian akhir. Suatu hal yang wajar kalau papa sangat marah padanya. Tapi perkataan papa bahwa Aldo tidak berhasil menjadi anak sulung, yang seharusnya menjadi pemicu adikya sangat meresahkan hati Aldo.
Ketika pelajaran sekolah telah berakhir, Aldo bergegas keluar dan menghampiri teman-temannya. Memang perasaan Aldo menjadi lebih tenang setelah ia bermain dengan teman-temannya. Tapi, semuanya menjadi buyar ketika ia sadar bahwa langit sudah gelap. Dengan segera Aldo pulang kerumahnya. Dengan perlahan dan rasa cemas Aldo membuka pintu rumah. Rumah terasa sangat asing baginya, tidak ada tegur maupun sapa yang tertuju padanya. Penuh lesu Aldo menuju kamar tidurnya.
Hening…
Semua terasa asing
Kulangkahkan kaki penuh sepi
Dengan menahan gundah dihati

***

“TIDAK LULUS”
Kata-kata tersebut tercantum jelas diselembar surat, yang menyatakan bahwa Aldo tidak lulus. Sepertinya waktu terhenti dengan sekejap, semua perasaan tercampur aduk dihati Aldo. Yang ia takutkan akan terjadi keributan dirumahnya.
“Kenapa kamu bisa tidak lulus? Apa yang sudah kamu perbuat? Ini sangat memalukan, apa yang bisa dicontoh adikmu dari dirimu?!” sambut papa ketika Aldo pulang dengan nada yang tinggi. Mama langsung datang, Aldo pun langsung pergi mejauhi orangtuanya dan masuk kekamar. Ketika itu terjadi pertengkaran antara papa dan mama, juga terdengar suara Vira yang sedang menangis. Yang membuat hati Aldo sangat terkikis. Sepertinya semua yang ia takutkan terjadi.
Bingar…
Semua telah lengkap
Terkumpul dan terkunci begitu rapat
Apa yang telah aku perbuat
Ku buat hidupku tak nyaman
Aldo tidak tahan dengan semuanya, ia pergi menghilang dari rumah untuk melepaskan kejenuhannya. Saat ia kembali kerumah, garis-garis polisi memagari rumahnya, kerumunan orang mendatangi rumah Aldo. Dengan segera Aldo menerobos masuk, dilihatnya tiga orang terkapar dilantai tak bernyawa, diwarnai dengan darah-darah disudut-sudut ruangan. Dengan pikiran yang kosong Aldo pergi keluar. Karena waktu sudah sangat malam, ia memutuskan untuk berteduh kerumah Jimmy. Tidak ada satu katapun yang keluar ketika Jimmy bertanya kepada Aldo.
Saat matahari telah terbit, Aldo terbangun dari tidurnya. Dilihatnya sebuah koran yang berada ditumpukan buku. Terjadi sebuah perampokan di sebuah rumah yang menewaskan tiga orang, terdiri dari suami-istri dan seorang anak perempuan dikediaman keluarga Bapak Robby Hermawan, Aldo tidak meneruskan bacaannya. Ia sadar bahwa itu adalah keluarganya.
Kenapa aku pergi?
Kenapa aku sembunyi?
Andai waktu dapat kuputar kembali
Akan kuperbaiki setiap sisi
Sesal…
Kusesali diriku ini
Kesalahan yang kubuat sendiri
Dan seharusnya kutanggung semua sendiri
Mati…
Jalan terbaik saat ini
Ingin aku menepi
Agar bebas dari semua ini
Jimmy menemukan segumpal kertas tersebut, ia tahu itu adalah puisi Aldo. Secepat cahaya Jimmy pergi untuk mencari Aldo. Tapi, semua sudah terlambat. Dilihatnya Aldo terbujur kaku diatas semen dingin, tanpa nafas dan dipenuhi darah-darah yang mengelilingi sekujur tubuhnya.


TAMAT








HAMPA

Gelapnya malam menggambarkan perasaanku yang penuh kalbu. Kulihat langit malam yang dihiasi lengkungan bulan tanpa ditemani bintang-bintang. Seolah perasaanku yang terlukiskan, mencoba tetap tersenyum walaupun sendirian.
“Nenny, ayo masuk! Udah malam nih, Kamu nggak tidur? Besok kan sekolah” teriak kakakku, Venny. Lamunanku pun terhenti, tanpa sadar ternyata sudah dua jam Aku duduk diteras rumah sambil memandangi langit. Dengan segera Aku pun menuju kamar tidurku dan merebahkan tubuhku. Hatiku selalu berharap agar Aku dapat tidur dengan nyenyak tanpa terbangun ditengah malam.
Pukul 23.30, Aku terbangun dari alam tidurku. Ternyata harapanku tiada arti. Kudengar orangtuaku sedang bertengkar. Seperti biasa, Aku selalu terbangun setiap saat mereka bertengkar. Tak pernah Aku mengharapkan mendengarkan pertengkaran mereka. Selalu kututup telingaku rapat-rapat, kucoba memejamkan mata dan kembali tidur. Tapi, Aku tidak pernah bisa. Sampai akhirnya Aku terlelap dengan sendirinya.
Kudengar bunyi alaram dari telepon selulerku ynag berusaha untuk membangunkanku. Tapi, setelah Aku terbangun, Aku matikan alaramku dan kembali meneruskan tidurku lagi. Hingga kakakku lah, Cenny yang akhirnya membangunkanku. Aku selalu mempersiapkan segala sesuatu yang Aku perlukan tanpa bantuan oranglain. Di pagi hari, semua keluargaku sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Satu dengan yang lain terlihat begitu asing. Semuanya saling menghemat suara.
●●●
Dengan seragam putih biruku, Aku pergi menuju sekolah. Disana Aku bisa menghilangkan segala seluk beluk masalahku, atau paling tidak melupakannya. Sampai dikelasku, Aku langsung menghampiri temn-temanku. Kulihat mereka saling bercanda penuh tawa, tanpa pikiran sedikit pun, tanpa masalah sedikit pun. Kadang Aku merasa terasing. Mereka selalu penuh rasa sukacita. Tidak ada masalah dengan keluarga, sama sekali. Berbeda dengan diriku,, tapi Aku selalu mencoba ‘tuk turut serta merasakan kebahagiaan mereka.
Pelajaran pertama dimulai, bahasa Indonesia. Pelajaran yang paling Aku sukai. Lebih tepatnya karena gurunya, Ibu Rita. Ia adalah sosok guru yang menjadi dambaan semua muridnya. Kalau Aku pikir, kami bukanlah anak-anak yang lahir dari rahimnya. Tapi, kasihnya yang selalu menyayangi kami, murid-muridnya seperti menyayangi anaknya sendiri. Padahal, orangtuaku sendiri tidak pernah menaruh kasih yang seperti itu padaku.
Kudengar bel istirahat berbunyi, tapi Aku sungguh tidak bersemangat. Teman-temanku Nikky dan Vira mengajakku ke kantin untuk makan bakso, makanan kesukaanku. Namun, Aku menolaknya. Ini memang sunnguh aneh, tidak biasanya Aku tidak berselera seperti ini. Kini, Aku melamun lagi. Melamun jauh memasuki alam pikiranku. Aku selalu menginginkan kehidupan yang normal. Tanpa mendengar pertengkaran orantuaku setiap hari dan setiap malam. Aku malu, sungguh malu jika teman-temanku mengetahui masalah keluargaku. Tanpa sadar air mata telah siap untuk membasahi pipiku dengan perlahan-lahan.
“Nenny, ada apa?” kudengar suara yang begitu lembut. Ternyata Bu Rita, Aku hanya bisa diam namun menyiratkan seribu bahasa. Aku tahu Bu Rita pasti bisa membaca semuanya dari mataku. Bu Rita memeluk erat tubuhku, sungguh damai dan nyaman. Air mataku pun mengalir menjadi begitu deras dipelukkan Bu Rita. Bu Rita mencoba menenangkanku dengan belaian lembutnya.
Pelajaran sekolah berakhir, Aku dan Fira pergi kerumah Nikky. Untuk apa Aku langsung pulang kerumah? Rumah adalah neraka bagiku. Seperti biasa, kalau sudah ngumpul yang kami bicarakan pastinya tentang cowok dan hal-hal tentang cowok.
“Nenny, gimana hubunganmu sama Ferdy?” Tanya Nikky dengan gayanya yang centil.
“Huh… Aku sama Ferdy? Hmm… seperti biasa cuma temen, tahu sendiri kan Ferdy udah punya pacar!” cetusku
“Makanya Nen, maju terus pantang mundur!” sambung Fira. Ferdy adalah cowok yang Aku sukai, mungkin bukan cuma Aku, tapi banyaaakkk… Yah, karena Ferdy sudah punya pacar pada patah hati semua. Ferdy itu cowok yang keren, pintar, baik, ramah… hmm pokoknya nggak habis-habis lah kalau bicara tentang Ferdy.
Berjam-jam kami saling bergurau dan tertawa-tawa. Tanpa terasa langit sudah berubah menjadi jingga. Sudah waktunya bagi kami untuk pulang.
“Udah sore Nik, kami pulang ya” pamitku dan Fira
“Iya, hati-hati dijalan ya” balas Nikky
●●●
“Rumah” kalau bisa Aku nggak mau menuju rumahku. Rasanya kesenanganku hilang begitu saja ketika Aku ingat rumah. Kubuka pintu rumah, sungguh hening. Aku bingung, sebenarnya apakah ini keluargaku? Kenapa Aku tidak pernah merasakan kehangatan? Seperti apa rasanya mempunyai keluarga yang normal? Kenapa keluargaku seperti ini?
Kalau sudah pulang, mandi, makan, nonton tv, belajar, tidur… hanya sesekali Aku berbicara dengan keluargaku. Aku sungguh sudah terbiasa dengan rutinitasku yang seperti ini. Rasanya hidupku hampa, tapi beruntungnya Aku masih punya teman-teman yang baik dan Aku juga punya Bu Rita.
Aku terbangun penuh rasa terkejut. Kudengar suara dari benda yang pecah, ya… sengaja dipecahkan. Ternyata orangtuaku lagi, mamaku berteriak kesakitan. Mungkin itu ulah papa. Kakak-kakakku langsung menenangkan mama. Aku menangis, Aku sangat membenci papa. Tuhan, sebenarnya apa ini? Aku sungguk tak sanggup.
Sejak Aku kecil, Aku tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Aku malu, pastinya semua orang disekitar rumahku telah mendengar pertengkaran ini. Mama dan kakak-kakakku juga menangis. Mungkin, hanya papa yang tidak.
Pernah kudengar perkataan mama saat bertengkar dengan papa. Mama dapat bertahan dari semua ini hanya karena kami, anak-anaknya. Mama yang bekerja banting tulang hanya karena kami, sebenarnya apa yang papa mau? Ia tidak bekerja, ya hanya sesekali.. tapi, kenapa Ia banyak menuntut? Jujur Aku sangat membenci papa. Semua ini terjadi karena papa.
Huff… sulit rasanya membuka mata yang membengkak ini. Mungkin ini karena kejadian tadi malam. Dengan gontai Aku mejauhi kamar tidur. Beberapa saat kemudian Aku telah selesai dengan semuanya.
●●●
“Nenny!”
Langkahku terhenti, Aku menoleh kesuara itu. Ternyata Nikky dan Fira. Aku melanjutkan perjalananku menuju kelas.
“Aduuhh!!” buku-bukuku terjatuh, tak kusangka Ferdy didepan mataku yang sedang membantuku mengambil buku-bukuku.
“Kamu nggak pa-pa kan?” oh… Ferdy bertanya ke Aku. Jantungku berdetak sungguh tak teratur, waktu sekejap terasa terhenti, lidahku begitu kaku.
“Nng.. Nggak pa-pa kok” jawabku canggung
“Nama kamu Nenny ya?”
“Iya”
“Nama Aku Ferdy”
“Ehm, Aku sudah tahu, makasih ya udah mau bantuin”
“Iya, sama-sama”. Aku langsung masuk ke kelas dengan hati yang berbunga-bunga.
“Cyie… Nenny, lagi senang ya? Tanya Nikky yang mengagetkanku
“Iya nih yang tadi bicara sama pujaan hati” ledek Fira
“Hmmm, Aku senang sekali. Tadi Ferdy bicara sama Aku! Bantuin Aku juga lagi! Rasanya Aku mau kejadian tadi terulang” harapku
“Gini nih kalau orang lagi falling in love”
Selama jam istirahat Aku hanya mendengarkan lagunya Taylor Swift yaitu Love Story dari MP3 telepon selulerku. Aku sungguh menyukai lagu ini, mungkin karena liriknya sama dengan kisah cintaku. Hihi
“Lagi senang ya Nen?” Bu Rita datang
“Iya Bu” jawabku
“Baguslah kalau begitu, jangan menangis lagi ya” kata Bu Rita. Aku hanya bisa tersenyum dan Bu Rita membalas senyumku.
Pelajaran sekolah berakhir, sebenarnya Aku tidak mau langsung pulang kerumah. Tapi, Nikky mau pergi kerumah saudaranya dan Fira membantu mamanya dirumah. Terpaksa Aku pulang kerumah, mau kemana lagi.
Sebenarnya Aku sungguh merasa kesepian di rumah. Ingin sekali Aku bercerita-cerita dengan kakakku. Tapi, Aku tidak dekat dengan mereka. Mungkin karena usia kami yang terlalu jauh berbeda. Kalau Aku sudah bersama kak Venny dan kak Cenny Aku merasa terasingkan. Mereka begitu dekat, sedangkan Aku sibuk mencari kegiatanku sendiri.
Aku terbangun lagi ditengah malam! Aku sungguh lelah dengan semua ini. Kapan ini akan berakhir? Aku sudah bosan dengan bingar kehidupan ini. Bosan harus bersandiwara menjalani hidup ini.
●●●
Sambil termenung Aku berjalan menuju kelas. Aku menebak-nebak dalam hati, bagaimana kalau hal ini terus berlanjut? Bagaimana kalau sampai orangtuaku bercerai? Aduh… Aku tidak bisa membayangkannya.
“Nenny! Ada kabar gembira nih!” teriak Fira yang membuatku buyar
“Kabar gembira? Apa?” Tanya ku penasaran
“Ferdy, kemarin Ferdy putus sama pacarnya” jawab Fira
“Yang benar? Yakin kamu Fir?” Tanya ku dengan perasaan yang mulai berubah
“Yaiyalah, semua juga udah pada tahu” jawab Fira yang meyakinkanku
Aku tidak menyangka, Aku merasa sangat senang. Apa yang Aku rasakan disekolah, sangat berbalik dengan apa yang Aku rasakan dirumah. Semua sungguh berbeda. Di sekolah Aku merasakan kebahagiaan dan kenyamanan. Tapi, kalau di rumah Aku merasakan kepahitan dan kepenatan.
“Kenapa malah melamun Nen?” Tanya Nikky
“Hmm… Nggak ada apa-apa, Nik” jawabku
“Eh Nen, itu dia Ferdy” kata Fira sambil melirikkan matanya kearah Ferdy
“Halo Ferdy!” sapa Nikky dengan gaya yang dibuat-buat
“Hai! Hai Nenny!” balas Ferdy
“Ha.. Hai” jawabku bingung, Aku, Fira dan Nikky masuk kekelas kami.
“Nen, tadi Ferdy nyapa kamu!” kata Fira
“Kayaknya ada reaksi positif nih” sambung Nikky, Aku hanya bisa tersenyum dan tetap berpikir positif. Senang sekali rasanya. Bagaimana tidak? Setelah berapa lama Aku menunggu Ferdy putus, eh, sekarang ternyata terjadi.
●●●
Kulangkahkan kaki menuju rumah dengan hati yang kegirangan. Perasaanku sekarang ini sangat berbeda dengan apa yang Aku rasakan biasanya. Sepertinya Aku sudah lupa dengan apa yang pernah terjadi di rumah dan Aku selalu berharap agar hal ini tidak akan sirna.
Sang fajar telah terbenam di ufuk Barat sejak beberapa jam yang lalu. Mataku pun sudah sulit untuk kubuka. Aku merebahkan tubuhku dan tidur. Akhirnya aku bisa tertidur dengan pulas tanpa terbangun ditengah malam. Tapi, tiba-tiba kudengar pertengkaran kecil sampai akhirnya menjadi pertengkaran besar seperti setiap malam. Padahal, fajar baru saja menyingsing di ufuk Timur.
Hari itu terus berlangsung stiap hari. Sampai aku sudah bosan, sampai aku sudah kebal, sampai aku sudah terbiasa. Huh… Sebenarnya seperti apa skenario hidupku ini? Kenapa seperti ini terus?
Aku juga sempat mendengar papa dan mama akan bercerai, bahkan sampai berulang-ulang kali. Tapi, aku rasa itu memanglah yang terbaik. Daripada aku harus mendengar pertengkaran mereka setiap hari. Bahkan lebih cepat lebih baik.
Saat aku pulang dari sekolah aku sangat terkejut. Kakak-kakakku memberitahuku bahwa papa dan mama bercerai. Aku tidak menyangka semuanya menjadi nyata. Tapi, menurutku memang inilah yang terbaik.
Kakak-kakakku memutuskan untuk tinggal dirumah costsan sambil kuliah. Dan pastinya aku memilih tinggal dengan mama. Ya… Walaupun keluargaku rusak, tapi setidaknya ini lebih baik. Aku tidak perlu mendengarkan pertengkaran mereka setiap hari. Aku lebih nyaman dengan ini. Teman-temanku juga sudah tahu semua ini dan tidak ada yang berubah dari mereka terhadapku. Bu rita juga selalu ada disampingku.
Sekarang aku dan mama menjadi begitu dekat. Baru kali ini aku merasakan bagaimana sebenarnya peran mama dengan anaknya. Akhirnya, aku bisa merasakan ini juga. Belakangan ini, beberapa kali sempat aku lihat mama begitu tidak sehat. Tapi mama selalu menutupinya. Mama tetap terus bekerja tanpa istirahat.
●●●
Telepon selulerku berbunyi. Aku tidak menyangka, mama masuk rumah sakit. Teman kerja mama memberitahu ini. Aku diberi penjelasan bahwa penyakit mama komplikasi, gula dan liver dan penyakit ini sudah cukup lama diderita mama. Pasti ini karena mama bekerja terlalu keras dan itu demi Aku dan kakak-kakakku.
Ma… Kenapa selama ini mama hanya diam. Aku sungguh sangat bingung dengan semua ini. Dengan rutin Aku menjenguk mama kerumah sakit. Kadang Aku lihat kakak-kakakku juga menjenguk mama. Tapi, tidak dengan papa. Biarlah, lagipula Aku sudah melupakannya.
Keadaan mama makin hari makin memburuk. Aku sangat takut. Aku selalu berdoa agar mama sembuh. Tapi, setelah dua minggu, mama dalam keadaan kritis dan sampai akhirnya mama tidak tertolongkan. Jantungku terasa terhenti, bumi terasa tidak berputar lagi, Aku berharap ini hanya mimpi, tapi Aku tidak bisa memungkiri lagi, hidupku akan sangat penat dan sunyi, Aku tidak tahu apakah Aku akan sanggup menjalani semua ini, kemana arah jalanku nanti, tapi yang kutahu pasti, hidupku sudah benar-benar hampa kini.

SekiLas






this is me...

A: ACTIVE
B: BEST
C: CHEERFUL
D: DIFFERENT
E: EXCELENT
F: FUNNY
G: GOOD
H: HONEST
I : INTERESTING
J: JOYFUL
K: KIND
L: LOVELY
M: MERCIFUL
N: NARCISSUS
O: OPEN
P: POWERFUL
R: RISIBLE
S: SWEET
T: TRUTHFUL
U: UNIQUE
V: VICTORIA
W: WELLKNOWN

^o^
hhahahha
hhihihhi
hhuhuhhu
hhehehhe
hhohohho

Hidup ini bagaikan jalan..
suatu saat kita akan menemukan jalan yang berlubang dan penuh dengan tanjakan,,
dan mungkin ban mobil kita akan pecah, jika kita membawa ban serep itu berarti kita adalah seorang pengemudi yang bijak..

Tokoh-tokoh Hebat yang Pernah Dijuluki 'Bodoh'

Inilah tokoh terkenal yang dianggap bodoh di sekolah!

Ada banyak cerita tentang orang-orang terkenal yang dianggap bodoh waktu masih kecil. Winston Churchill, perdana menteri Inggris di Perang Dunia II, pemimpin dan orator amat hebat abad ke-20, tampak bodoh waktu masih kecil. Dia mendapat nilai buruk di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara. Sampai-sampai ayahnya berpikir, bahwa bila dewasa ia tidak akan dapat hidup di Inggris.

Bethoven diremehkan gurunya karena ia tidak bisa membuat perkalian dan pembagian.

Charles Darwin, pendekar teori Evolusi, berprestasi amat buruk di sekolah. Teorinya amat hebat. Tahun lalu saya mendapatkan buku aslinya The Origin of Species, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Betapa hebat literatur dan hasil riset yang mendukung teorinya. Semua hasil riset dan opini yang berkembang 100 tahun lalu itu telah ditelusuri dan ditelaahnya. Tetapi, waktu masih duduk di bangku sekolah, ayahnya pernah mengatakan, ia hanya memalukan keluarga.

Rapor Stephen Hawking, astronom penemu lubang hitam (black hole), yang masih hidup sampai sekarang di University of Cambridge, Inggris, pada merah waktu di SMA. Ayahnya amat frustrasi.

G.E.Chesterton, penulis kenamaan, tidak dapat membaca sampai di kelas 3. Seorang gurunya pernah mengatakan kepada anak berbadan gemuk ini: “Jika saja kami dapat membelah kepalamu, mungkin kami tak akan menemukan otak di sana, kecuali segumpal lemak putih.” Emile Zola, sastrawan besar, mendapat nilai nol dalam ujian akhir sastra. Bahkan, seorang guru memukulnya karena menganggap ia suka “bingung” dan mengajukan terlalu banyak pertanyaan.

Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson bahkan belum bisa membaca sampai berusia 11 tahun.

Guru Thomas Alva Edison, penemu listrik, menyebutnya anak dungu.

Namun kemudian si anak dungu menjadikan “bumi terang pada malam hari”. Ia mencoba 5000 lebih eksperimen berbeda tanpa hasil. Tapi, pada percobaannya yang ke-10 000, tiba-tiba cahaya muncul. Si anak dungu berhasil!

Pernah orang tua Albert Einstein amat cemas terhadap prestasi sekolah Einstein yang sangat rendah. Nilai yang baik hanya untuk pelajaran Matematika. Namun, awal SMA malah gagal dalam pelajaran ini. Ia suka melamun. Suatu saat gurunya memintanya berhenti sekolah:“Albert, kamu bodoh sekali. Kamu tak bakalan jadi orang nanti.” Waktu berusaha masuk Institut Politeknik Swiss, ia malah gagal tes dan harus pindah ke sebuah sekolah di kota kecil, dan indekos di rumah salah seorang gurunya. Setelah satu tahun belajar di sekolah itu, ia berhasil lolos tes masuk institut politeknik yang menjadi idamannya.

Lihatlah, betapa keliru penilaian guru dan orang tua terhadap potensi anak. Kazuo Murakami membuktikan, bahwa setiap orang punya gen-gen positif yang 90-95% di antaranya tertidur.

Gen-gen itu tetap tertidur, tak kunjung terbangunkan, karena stimulasi yang diberikan tidak cocok dengan gaya belajarnya.Para tokoh itu telah mengukir namanya yang abadi dalam sejarah.

BRIDGE LANGKAT



Pada 2005 tim bridge Langkat keluar sebagai Juara I tingkat Sekolah Dasar (SD) di kejuaraan yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah. Prestasi Nasional pertama dan diteruskan setiap tahunnya. Saat ini, pelatihan bridge bahkan sudah menjadi kurikulum pengembangan diri di SMP Negeri 1 Stabat Kabupaten langkat.
Tim bridge Kabupaten Langkat mengukir prestasi mengagumkan pada International Bridge Tournamen ‘Student Bridge Championship Cup III’ yang dilaksanakan di Hotel Golden Fiew Batam, 31 Juli-2 Agustus. Di katagori yang paling bergengsi yaitu beregu, tim bridge Langkat ini keluar sebagai juara satu dan juara tiga untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan juara satu di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Di tingkat senior tim yang turun pada Kepri Gobernor Cup VI finish di posisi 12 dari 49 peserta.
Selain itu ada beberapa prestasi mengagumkan lainnya yang telah diukir bridge Langkat.